Senin, 28 Oktober 2013

Bahasa Arab : Ilmu Balaghah..

Pengetian Ilmu Balaghah
Untuk lebih mengetahui tentang ilmu Balaghah, maka hendaklah diketahui pengertian dari Balaghah. Meskipun pengertian singkat dari komponen ilmu balaghah itu secara singkat dipandang perlu pula untuk mengetengahkan uraian tentang iImu balaghah agar tampak jelas keurgensian (keberadaan) ilmu Balaghah tersebut.

Adapun pengertian dari segi etimologi adalah sampai atau berkesudahan atau sampai. Menurut pengertian dari sisi kesusastraan ialah “Penonjokan makna dan pengertian kalimat yang jelas, sampai tertanam pada hati pembaca dan pendengarnya (diungkapkan oleh Syaid Ahrnad Aal-Hasymy).
Al-Mukaffa menyatakan bahwa Balaghah adalah beberapa makan yang terpancar dari suatu kalimat melalui beberapa cam, sebagian dengan isayarat , berbicara, berpidato, diskusi, surat-menyurat, karangan yang umumnya merupakan “wahyu” pada kalimat indah, ringkas tepat dan lugas. Jika kita perhatikan dari keterangan-keterangan fakar ilmu balaghah dari beberapa regenerasi dapat disimpulkan bahwa :

llmu Balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk mengungkapkan bahasa yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hat (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya.

Ungkapan yang mempunyai nilai sastra tinggi telah lama dimiliki oleh orang orang Arab, babkan sebelum tersebarnya agama Islam, tidak mengherankan dari keindahan bahasa membuat mereka terkesima mendengarkan ayat-ayat suci AI-Quran dan bahasa Hadist.

Alam tarakaifa dharaba L-Lahu masalan kalimatin Thayyibatin kasyajaratin ashluha a-sabitun wa far’uha fi s-sa,a’i. Apakah engkau tidak melihat Allah memberikan suatu perumpamaan dengan kalimat yang baik seperti sebatang pohon yang baik akarnya kokoh dan cabangnya menjulang kelangit.

lnilah suatu ayat yang menyatakan kebaradaan dari keindahan dari suatu bahasa.Bila dipandang dari peristilahan linguistik ilmu balaghah ini disebut Ilmu Sematik bahasa Arab. Penamaan sebagai ilmu semantik ini adalah merupakan suatu peristilahan setelah meneliti dan membandingkan disiplin ilmu semantik dan ruang lingkup bahasanya dari segi semantik bahasa Indonesia.

Namun jika diperhatikan dari pendapat para fakar yang lebih dominan menyatakan balaghah sebagai bagian dari pembahasan sastra, mereka juga mempunyai alasan yaitu yang diulas dalam balaghah adalah kebanyakan hasil karya sastra atau bahasa yang mengandung nilai-nilai sastra tinggi (bahasa al-Quran dan Hadist).

Pembagian llmu Balaghah
Ilmu balaghah sebagaimana diketahui terdiri dari bahagian yaitu :

  1. ilmu Bayan,
  2. Ilmu Ma’ani dan
  3. ilmu Badi’.

Untuk lebih jelasnya pembahagian dari ilmu Balaghah ini akan dijelaskan dalam sub-sub pembahasan ini.

Ilmu Bayan
Ilmu Bayan adalah ilmu yang menjelaskan seluk beluk bahasa Arab dimulai dari mengetahui uslub (ragam bahasa) puisi dan prosa.

Pembagian ilmu Bayan meliputi :
Tasybih, rukun tasbih. Pembahagian Tasybih dan kegunaan ungkapan Tasybih . Balaghah dan pengaruhnya bagi orang Arab dan bahasa Arab bagi para pembicara dan lawan bicara

Pembahasan tentang Majaz serta pembahagiannya Isti’ara (kata pinjaman) beserta pembahagiannya.
Kinayah dan pembahagiannya. Keterangan ringkas mengenai pembahasan ilmu Bayan :

a. Tasybih
Jika dilihat dari asal kata, tasybih berasal dari kata ٩بش/Syabbaha, mengingat masamuda, mensifatkan kecantikan gadis. (Muhammad Yunus, 1973:188). Dari segi ilmu Balaghah adalah menyempakan sesuatu kepada sesuatu yang lain dalam bahasa arab disebut :

Itu ditujukan supaya dapat menggambarkan hal rang tersembunyi, hal yang jauh, dan yang dekat,
menambah ketinggian derajat, memuji keindahan, kelebihan seseorang atau kelompok, sehingga menyentuh perasaan orang. Arkanutasybih yaitu:

Musyabbah : yaitu suatu yang dipersamakan
Musyabbah bih : yaitu yang diumpamakan
Adat Tasybih : yaitu lapaz yang dipergunakan untuk membuat suatu perumpamaan
Wajah syabah : suatu sisi yang dipersamakan.

Al-’Ilmu ka n-nuri fi’ l-hidayati

Musyabbah : Musyabbah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah :
Dilihat dari struktur arkanu t – tasybih : Wajah Syabah :

1. Tasybih Mursal Musyabah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
2. Muakkad
Muasyabbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
3. Mujmal
Musyabbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
4. Mufassal
Musyabah : musyawarah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
5. Baligh
Musaybbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
6. Tamtsil (wajah syabah bersjfat majemuk serta memerlukan pemikiran dan Hayalan : Musyabbah: musyabah bili: Adat tasybili: Wajah Syabah
7. Ghairu t-tamtsil (wajah syabah yang lugas, tidak memerlukan banyak hayalan dan Penafasiran).

Musyabbah: musyabah bili: Adat tasybili: Wajah Syabah

Tasybih jika dilihat dari sudut linguistik dapat dipadankan dengan istilah gaya bahasa
Metafora

b. Majaz
Majaz juga dikenal dalam bahasa Indonesia yang berarti makna kiasan atau figuratif meaning
(pemakian kata – kata yang bukan pada arti yang sebenarnya)

Contoh Artinya : seorang pemberani berpidato di depan kita
Ditinjau dari padanan peristilahan semantik bahasa Indonesia majaz ini termasuk gaya bahsa
Hiperbola dalam kelompok gaya bahsa pertentangan.

c. Isti’arah
Ist’arah merupakan kata pinjaman yaitu penggunaan kata dengan tujuan memperkuat makna yang terkandungdalam kata tersebut (makna tersirat) (Hasymy 303).
Isti’arah terbagi dua :
a. Tasyrihiyah : dipadankan dengan anti klimaks yakni penitik makna pada lapaz
musyabbah bih.
Contoh :
Kitabun anzalnahu ilayka li tu hkrija n-nasu mina z-zulumati ila n-nuri
Kitab (AI-Qur’an) ini diturunkan adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada
bahaya.

b. Makniyah: Dari peristilahan semantik indonesia di sebut gaya bahasa klimaks, pada isti’arah
makniyah ini lafaz musyabbah bih dibuang dan digantikan dengan kata yang lazin
dipergunakan sebagai rangkaian kata tadi.
Contoh :
/Inni la ara ra’usan qad ainaat wa hana qitafuha wa ini lashabuha./
Aku telah melihat kepala-kepala yang siap dipetik akulah empunyanya.

d.Kinayah
Kinayah (gaya bahasa Antonomasia) adalah gaya bahasa yang mengandung makna kiasan dan
sindiran. Kinayah ini dibagi kepada dua bahagian yakni :
1. Kinayah Sifat :
suatu sindiran yang ditujukan untuk menyatakan sifat seseorang.
Contoh :
/Thawilu n-najadi rafi’u l-imadi kastiru r-ramadi iza ma syata/
Banyak pertolongan ringan pekerjaan banyak api unggun di musim dingin.
Tujuan sindiran ini menyatakan sifat tolong menolong itu diperlukan di setiap keadaan.

2. Kinayah Mausuf
sindiran yang ditujukan kepada seseorang
Contoh :
/Qara’ a fulanun sinnuhu /
Sipulan telah menggerakan giginya, sindiran kepada seseorang yang sudah benar-benar marah.

Ilmu Ma’ani
ilmu ma’ ani adalah ilmu untuk mengetahui kejelasan ucapan Arab sesuai dengan situasi
kondosinya (amin Hakri 1979:53). Ilmu Ma’ani merupakan pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah untuk pemakaian kata sesuai muqtadal hal. Jelasnya Ilmu Ma’ani itu adalah suatu peraturan tentang pemberian makna yang tepat sesuai dengan redaksi kalimat.
Dalam kelompok ilmu Ma’ ani ini akan dibahas mengenai :
-Kalam khabari dan insya
-Zikru dan Hazfu
-Taqdim dan ta’hir
-Qashar
-Washal dan fashal
-Ijaz dan Musawah

Untuk mempermudah pemahaman pembaca pemula maka akan dijelaskan di sini tentang kalam khabari dan insya’i. Menceritakan tentang kalam tidak dapat terlepas dari Musnad dan Musnad ilyhi juga
Mutakallim, mukhatab dan kalam itu sendiri (isi dan manfaat kalam)

-Kalam khabari
yaitu kalam (kalimat ) yang mengandung pengertian (arti) benar atau dusta sedangkan
-kalam insya’I
suatu kalimat yang tidak mengandung pengertian benar dan
dusta.

Setiap kalam baik berbentuk khabari atau insyai mempunyai dua rukun (komponen) yakni Mahkum Alayhi dan Mabkum bib, disebut juga dengan Musnad ilayhi dan musnad .
Contoh:
/yabunayya ta’allam husna l-istima’l kama tatallam husna l-hadis/
hai anakku perhatikanlah pelajaranmu sebagaimana engkau mempelajari kata-kata yang baik’

Contoh 2:
Nukilan sajak Abu Nawas (penyair seribu satu malam)
‘Ar- rizqu wa l-hirmanu majrahuma bima qadha L-Lahu wa ma Qaddaral/ Rezki dan kehormatan
itu sama-sama dilimpahkan sesuai dengan ketentuan Allah dan sesuai dengan ukurannya.

Penganalisaan dari kedua contoh diatas sebagai berikut :
Jumlah (kalimat) : jenis : Musnad ilayhi : Musnad

dari segi bahasa Indonesia, Musnad ilayhi ini bisa disebut subjek dan musnad adalah predikat.
a. Kalam Khabari
Kelompok kalam khabari, yang lebih dekat pengertiannya adalah kalimat yang mengandung makna berita. Berita yang diungkapkan oleh si pembicara mempunyai tujuan tertentu demikian pula bagi sipendengar/pembaca berita.
Fakar ilmu balaghah menentukan keadaan ini dan menamakan pokok bahasan tentang

Al-ghardu mill ilqai I-hkabari/. ,.
Tujuan dari ungkapan dari berita Hal ini dibagi menjadi dua kategori yaitu :
1. Bila kalimat tersebut sudah sama-sama diketahui oleh si pembicara dan dipendengar
(pembaca) maka kaliInat khabari itu disebut

Lazim Fa’ i dah/
2. Bila kalimat itu sebelum diketahui oleh sipendengar/pembaca atau offing ke dua maka disebut ‘/
Selanjutnya khabari inipun dilihat dari kegunaannya sesuai dengan konteks kalimat serta situasi dan kondisi kalimat itu disampaikan atau / al-ghardhu tufhamu mill siyaqi l-kalam/
Dilihat dari konteks klaimatnya ini hkabari dibagi kepada :
1. /istirhamu/penghormatan l /C h/_”_
2. _ / Izharu tahassuri/ keluhan
3. /Izharu dha-dha’fi/mengungkapkan kelemahan
4. /al-fihkri/Bangga
5. / Al-Hassu ‘ala s-sa’yi wa I-jiddi /Memotivasi untuk menimbulkan semangat dan kesungguhan.

(contoh dari masing-masing hal ini dapat diperhatikan dalam buku Al-Balaghatu l-wadhihah 144-147, Mustafa amin, tanpa tahun) khabari ditinjau dari kepentingan si lawan bicara terbagi kepada tiga bahagian yaitu :
1. Bila orang kedua sama sekali belum mengetahui barita, maka khabar tidak perlu mengunakan huruf tawkid (tanda penguat berita). Disebut khabar Ibtida’i.

2. Bila orang ke dua ragu akan berita yang disampaikan padahal dia belum mengetahuinya maka dikemukakan kbahar dengan penambahan huruf taukid (tanda penguat).

3. Bila orang kedua tetap tidak percaya (munkir) atas berita yang disampaikan meskipun ada dalil yang telah ditentukan, maka wajib diberikan huruf taukid, satu taukid atau lebih. Konteks ini disebut khabar Inkari. Huruf-huruf taukid (ada waktu -t-taukidi) sebagai berikut ini :
Inna, anna, waw qasam, lam ibtida’, nun taukid, ahrufu t-tanbih, hurufu z-zaidah, qad, amma
syarthiyah.

b. Kalam Khabar huruju an muqthada -zahir
Kalak khabari khuruju an muqthada z-zahir
adalah kalam khabari yang keluar dari konteks semula, pada kaidah ilmu balaghah dibagi kepada tiga bahagian yaitu:

1. Khabar yang diungkapkan tanpa buruf taukid tetapi lawan bicara masih terus bertanya dan ragu atas berita yang diceritakan hal ini menyalahi konteks berita biasa disebabkan lawan bicara khuruju an muqthada z-zahir. Lawan bicara dalam hal ini dianggap sebagi orang yang tidak ingkar.

2. Khabar yang diberikan tanpa huruf taukid, tetapi lawan bicara tidak lagi bertanya. Disini ia digolongkan sebagai orang yang inkar.

3. Khabar yang dikemukakan tanpa huruf taukid, disini pembicara menempatkan lawan bicaranya sebagai seorang yang tidak mungkar, dengan tujuan untuk menjinakkan hati lawan bicaranya. Ini kerap kali digunakan dalam berpolitik (Ali Jarim tanpa tahun. Hal 165).

c. Kalam lnsya’I
Kalam insya’I terbagi kepada dua kelompok yaitu:
Insya’ Thalaby dan insya’ Gbayru Thalaby.

lnsya’ Thalaby :
yaitu menuntut sesuatu yang tidak berhasil pada waktu kata – kata itu diungkapkan yakni bentuk
amar, Nahyi, Tamanny dan Nida’i.

lnsya’ Gbayru Thalaby :
yaitu tidak ada tuntutan sesuatu terdiri dari bentuk, Ta’ajjub, Madah , Zam, Qasam Af’alu, r-raja dan
bentuk-bentuk lain selain insya’ thalaby.

Untuk melihat keterkaitan ilmu Balaghah dengan tata bahasa Arab maka penulis hanya menerangkan tentang beberapa sisi dari Insya’ Thalaby saja.

c. 1. Pembagian Insya’ Thalaby
Amar Adapun Qaidah Amar yaitu menuntut suatu pekerjaan dari orang rang lebih tinggi (kedudukan atau umur). Bentuk Amar dalam balaghah sama dengan bentuk amar dalam tata bahasa Arab.

Fakar-dakar ilmu balaghah menyebutkan :”Bentuk Amar ada empat :
Fi’il Amar Mudhari’ yang diketahui oleh Ei’lam Amar Ism Fi’il amar Masdar sebagai ganti dari Fi’il Amar
Selain makna perintah dari segi balaghah Amar mempunyai makna lain yakni apabila diteliti dari konteks kalimat (siyaqul kalam) mendatangkan makna sebagai berikut

-/Irsyad/’ memberi petunjuk’ / Do’a/Do’a
-/lltimas/menyuruh orang sebaya’ /amanny/’bercita-cita’
-/Takhyir/’memilih’
-/Taswiyah/’Mempersamakan’
-/ Ta’jizl’ Melemahkan’
-/Tahdid/Ancaman’
-/bahah/’ membolehkan’
contoh Amar :
1. . Amma ba’du fa aqin linasi l-hajji/’ Seteleh itu maka peritahkanlah hajji kepada manusia’ .

2. I… Wa l-yatawaffu bi l-bayti l…’atiq/’ dan tawaflah kamudi rumah suci’

3. I’ Alaykum andusakum la yadhurrukum man dhalla iza h-tadaytum/’
Perliharalah dirimu janganlah membuat dirimu mudharat dengan kesesatan setelah engkau
memperoleh petunjuk.

4. /Wa bi l-walidayni ihsanan/ ‘ Berbuat baiklan kepada kedua orang tuamu’

- Nahyi
Nahyi adalah menurut memberhentikan perbuatan dari orang yang lebih tinggi. Bentuk bahyi
berasal dari fi’il mudhari’ didahului oleh la nahiyyah.
Contoh :
/Wa La taqrabu mala l-yatimi ilia billati hiya ahsanu/ Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali untuk kebaikan.

Ahli ilmu Balaghah mengkategorikan arti nahyi dilihat dari (Siyaqu l-kalam kepada :
/ Do’a/Doa’
/ lltimas/ melarang orang sebaya’
/ Tamanny/’Cita-cita’
/ Taubih/’Menjelaskan’
/ Tay’is/Menyesal’
/ Tahdid/’ Ancaman’
/ Tahqir/’Hinaan’

Menganalisis analisis makna Nahyi dri konteks kalimat itu memerlukan perhatian yang jeli, sehingga nampak keistimewaan artinya. Ini merupakan hal yang penting bagi penterjemah, sehingga terjemahan tidak terjebak pada kesalahan arti, terutama sekali bagi penterjemahan ayat-ayat Al Quran dan Hadist Rasul.

- Istifham
Istilah adalah bentuk kalimat rang dipergunakan untuk mendaptkan informasi yang jelas tentang sesuatu masalah, yang belum diketahui sebelumnya. Cara pembentukan Istifham adalah dengan mempergunakan ada watu istifham.

Adawa tu l-istifham adalah :
نﻣ/min/’dari/,لﺤ/hal/’adalah’, ﻣﮐ/kam/’berapa,ﺎﻣ/ma/’apa’,
ت ﺎﻣ
/mata/’bila أ/’a/’apa, تأ/anna/’bagaimana, نﻳ أ/aina/’dimana’,ﻲا /ay/’apa’/ﺂنﺁﻳ ﺁ/ayyana/’bagaimana, kapan’.

- Tamanny
Tamanny adalah menuntut sesuatu urusan rang sangat disukai tetap adakalanya hal yang mustahil tercapai dapat juga disebut sebagai angan-angan. Tamanny ini dibentuk dengan menggunakan huruf tamanny : لﺤ/hal/’, تﻳﻟ/layta/’sekiranya’,وﻟ/lau/ ‘kalu sekiranya’, ﻞﻌﻟ/la’alla/’mudah-mudahan’

Contoh Istifbam :
1. ‘fa hat Lana min sufa’a u fa yasfa’u lana/
ﻂ ‘Masih adakah yang mau menolong kami, maka berilah pertolongan kepaa kami’

2. flaw La kana ‘indi shadiqin yaji’u bi khamsati atafin rubiyyatin/ kalau ada temanku yang memberikan aku lima ribu rupiah saja’

3. /Layta s-sabab ya’udu ghadan/ “Semoga masa muda dapat terulang besok”

An-nida
An-nida adalah panggilan kepada seseorang pada mulanya annida’ ini ditujukan hanya untuk memanggil seseorang saja, namun pada tahapan selanjutnya An- nida’ ini ditujukan pula untuk menyeru ;

An-nida’ (seruan) menggunakan huruf Nida’ yaitu:
Ỉ/hamzah/’hai’, يﺁ/ay/’hai’ ,mari, ﺂﻳ/ya/’hai,mari, ي/ya /و/wa/ ي
׀/ayya/ﺂﻳ ﺎﺤ/hayya/. Semua ini digunakan untuk menyeru orang yang dekat. أ/hamzah, digunakan untuk menyeru orang yang dekat

يأ/Ay/menyeru kepada yang dekat dihati dan selalu hadir dalam benaknya. Adakalanya
diperuntukkan يأ/ /Ay/ dan أ/hamzah/untuk memanggil orang yang tinggi martabatnya, dengan penuh kesopanan.

ﺎﻳ/ya/digunakan untuk yang dekat meskipun tidak nampak, atau pada tempat yang jauh.
Contoh: بﺮ ﺎﻳ/Ya rabbi/’Ya Tuhanku.

KEBERADAAN ILMU BALAGHAH SEBAGAI CABANG ILMU BAHASA

Ilmu Balaghah yang sekilas berbeda dengan ilmu-ilmu babasa yang lain seperti ilmu Nahwu dan Sarf, Qira’ah dan muthala’ah, berbeda dengan Dirasatu 1-mu’jamiyah dan ilmu as-ashaut, namun bila dianalisis secara seksama maka dapat diperincikan keterangan mengenai keterkaitan ilmu Al-Balaghah dengan ilmu-ilmu bahasa yang lain. Keberadaan ilmu Balaghah sebagai salah satu dari cabang ilmu bahasa akan tampak jelas jika diperbandingkan antara ilmu-ilmu tersebut. Keberadaan ilmu Balaghah sebagai ilmu Bahasa Arab tahapan awal terlihat pada kelompok llmu Bayan. Dalam ilmu Bayan terdapat kalam (kalimat yang sempurna) yang terdapat juga dalam ilmu Nahwu yang disebut dengan al-jumlatu I-mufidatu (kalimat yang sempurna)

4.1. Keberadaan llmu Balaghah Dari Segi Uslub.
Uslub adalah gaya bahasa atau susunan kalimat yang dituturkan dengan baik, sehingga membuat pembaca atau pendengar terkesima. Uslub dalam ilmu Balaghah dapat dipadankan dengan Ragam Bahasa Indonesia dari sisi Linguistik/ tata bahasa Indonesia. Ragam bahasa yang tercermin dari ilmu Balaghah itu terdiri dari :
-Ragam Bahasa ilmiah
-Ragam Bahasa Sastra
-Ragam Bahasa Retorik (Pidato)

-Ragam bahasa Ilmiyah
adalah ragam bahasa yang dipergunakan untuk menjelaskan sesuatu secara ilmiyah, ragam bahasa ini digunakan dikalangan pendidik, ilmuwan, cendikiawan, dalam berbagai disiplin ilmu.

-Ragam bahasa sastra
adalah ragam bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan bahasa yang indah mempunyai nilai estetik tinggi, ada kalanya mempunyai penyimpangan dari peraturan Nahwu dan Sarf.

Ali Jarim menyebutkan bahwa : “Uslub Adabi adalah Ragam bahasa yang sulit yang sangat memerlukan keterampilan dan pemikiran yang khusus dan memerlukan hayalan sipenterjemah untuk mengekspresikannya. (Ali Jarim. Tanpa taboo, hal 16).

-Ragam bahasa Retorik adalah ragam bahasa yang dipergunakan oleh para Da’I, ahli pidato (orator), ditujukan untuk terampil berargumentasi. Ragam bahasa Retorik ini di bahas pada ilmu Balaghah dalam kelompok ilmu Badi’. (Al-hasymy dalam Muqaddimah jawahiri 1- Balaghah)

Berpidato merupakan suatu keterampilan yang sangat berharga didalam khalifah-khalifah masyarakat Arab bahkan sebelum datangnya Islam. Untuk menyusun kalimat dengan berbagai uslub yang telah disebutkan tadi diperlukan llmu Tata Bahasa Arab sintaksis Arab ini akan memberikan satu rumusan tentang bentuk kalimat Islamiyah, bentuk kalimat Fi’liyah dan bentuk Syibhu Jumlah.

Dari struktur Fi’liyah dikenal adanya subjek dan predikat atau dari balaghah yang disebut mahkum ‘alayhi dan Mahkum Fih. Demikian juga struktur jumlah islamiyah akan terdiri dari mahkum alayhi dan mahkum
fih.

4.2. Keberadaan Balaghah dari Segi Struktur
llmu Balaghah memperkenalkan banyak struktur kalimat dan dari segi isi (makna kalimat). Struktur kalimat dalam ilmu Balaghah adakalanya terdiri dari ismiyah dan adakalanya jumlah fi’liyah. Struktur jumlah ismiyah sama dengan struktur yang ada pada jumlah al kahabari. Pengenalan tentang mubtad’ dan khabar (jumlah ismiyah) yang terdiri dari jumlah musnad dan musnad ilayhi. Struktur yang terbalik dapat saja dalam ilmu balaghah jika kalimat tersebut hasil karya sastra. Hal seperti ini menandakan adanaya satu kebebasan memilih struktur bagi para sastrawan. Kesamaan struktur Amar antara ilmu Nahwu dan ilmu Balaghah terlihat jelas dari cara pembentukan amar, yaitu :

- Dibentuk dari fi’il amar asli dengan makna perintah secara hakiki (sebenarnya).
- Bentuk fi’il Mudhari’ didahului lam Amar
- Bentuk Ism Fi’il Amar
- Bentuk masdar sebagai ganti fi’il Amar

Untuk kesamaan struktur ini para ahli balaghah menuliskan sama dalam buku buku mereka, tidak ada yang menuliskan adanya satu perbedaan struktur. Struktur nahyi pads ilmu Balaghah juga “mempunyai kesamaan dengan ilmu Nahwu demikian juga dengan struktur Istifham, struktur Tamanny. Urgensi illmu Balaghah akan sangat terasa apabila diperhatikan kegunaannya ketika menterjamahkan kalimat. Karena dalam Balaghah ada arti leksikal dan ada arti gramatikal. Suatu contoh dapat diperhatikan :

/la takullahuma uffun’ /”janganlah kau katakan ah, pada kedua orang tua mu”.

KALAU SESEORANG TIDAK MENGGUNAKAN ILMU BALAGHAH MAKA IA TIDAK AKAN SAMPAI KEPADA ARTI SEBENARNYA YANG TERKANDUNG DALAM KALIMAT ITU. MAKNA SEBENARNYA JAUH LEBIH DALAM DARI APA YANG DITERJEMAHKAN INI.

Makna tersirat (tersembunyi) dari kalimat diatas adalah sedangkan mengucapkan ah saja dilarang dalam Islam apa lagi berbuat kasar dan tidak baik terhadap orang tua.

SINDIRAN-SINDIRAN HALUS DARI BAHASA AL-QURAN AKAN TERASA MEMBEKAS DI DALAM BENAK SESEORANG, APABILA IA TELAH MENGETAHUI BALAGHAH DAN DASAR-DASAR ILMU TERJEMAH.

KESIMPULAN

Sebagai kesimpulan dari makalah ilmiyah ini adalah :

llmu balaghah yang semula oleh sementara orang dikategorikan kepada ilmu sastra, tetapi ilmu balaghah itu adalah sintaksis Arab. Sebagai ilmu semantik tentu ia berkaitan erat dengan ilmu Sintaksis ilmu Nahwu dan ilmu sarf.

Keberadaan ilmu balaghah sebagai ilmu bahasa Arab akan terlihat dengan jelas jika dipergunakan kaca mata balaghah, dengan demikian akan mudah pula untuk mengerti pesan yang terkandung dalam serangkaian kalimat, baik berbentuk sastra ataupun yang bukan sastra.

Saran

Setiap orang akan merasa kesukaran apabila menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Kendala untuk mengerti ilmu Balaghah atau bahasan mengenai sastra akan lebih sulit dimengerti apabila tidak mempunyai dasar pengetahuan awal. Sebagai penulis menyarankan agar mempelajari tentang ilmu nahwu dan Morfologi Arab dengan baik agar lebih mudah menyerap, terutama ilmu balaghah yang dianggap sulit itu akan lenyap sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar